logo_brand

DISKOMINFO

KABUPATEN JEMBER
navbar_brand
Pemerintahan / Umum

Akses Ekstrem Bukan Halangan Tim JCKIA Jelbuk Jemput Bola Pantau Ibu Hamil Berisiko

Editor Bidang Media
Editor Bidang Media
11 Februari 2026
59 Kali dibaca
Akses Ekstrem Bukan Halangan Tim JCKIA Jelbuk Jemput Bola Pantau Ibu Hamil Berisiko
Sumber Gambar: Tim Media Diskominfo Jember
Diskominfo Jember – Semangat pelayanan kesehatan tanpa batas ditunjukkan oleh tim gabungan di Kecamatan Jelbuk. Melalui program Jember Cinta Kesehatan Ibu dan Anak (JCKIA), tim lintas sektoral melakukan kunjungan lapangan (home care) untuk memantau kesehatan ibu hamil yang tinggal di wilayah terpencil di puncak gunung.


Saat itu, Kepala Puskesmas Jelbuk, Mahcus Rovida, yang memimpin langsung peninjauan tersebut tampak terengah-engah menyusuri jalanan menuju rumah dua pasien di Dusun Tenap, Desa Sucopangepok, Kecamatan Jelbuk.


Tak sendirian, dia melibatkan sinergi dari berbagai pihak. Mulai dari Kecamatan Jelbuk, lintas sektor KB, puskesmas, hingga kader PKK, sebagai bentuk komitmen nyata dalam menjaga keselamatan ibu dan anak di Kabupaten Jember.


Mahcus Rovida mengungkapkan bahwa langkah ini sangat krusial. Mengingat, kondisi geografis yang menantang dan adanya risiko kesehatan yang membayangi para ibu hamil di wilayah tersebut.


Perjalanan menuju lokasi bukanlah perkara mudah. Mahcus Rovida menjelaskan bahwa tim harus menempuh perjalanan kaki selama kurang lebih satu jam dengan medan yang cukup menguras tenaga.


"Perjalanan ke sini lumayan menguras tenaga, kurang lebih satu jam kita berjalan untuk melihat kondisi ibu hamil yang ada di pucuk gunung," ujar Mahcus Rovida saat memberikan keterangan di lokasi.


Kunjungan ini fokus pada dua ibu hamil, yakni Intan dan Febri, yang diidentifikasi memiliki risiko kesehatan tertentu.


Dalam pemeriksaan yang dilakukan, tim medis menemukan adanya indikasi risiko preeklamsia (tekanan darah tinggi pada masa kehamilan) pada salah satu ibu hamil. Namun, Mahcus memastikan bahwa langkah pencegahan dan tata laksana medis telah langsung dilakukan guna meminimalisir komplikasi lebih lanjut.


"Intan diketahui sudah rutin melakukan kontak kesehatan di Posyandu setempat, sedangkan Febri tercatat sudah melakukan kontak dua kali dengan bidan di Sukowono, namun belum sempat mendatangi layanan di Puskesmas Jelbuk.


Mengingat lokasi tempat tinggal yang sangat jauh dari fasilitas kesehatan, Mahcus Rovida telah menyusun rencana strategis untuk proses persalinan nantinya. Dia menekankan bahwa tidak memungkinkan bagi ibu hamil untuk turun gunung saat kondisi darurat atau saat rasa sakit melahirkan sudah muncul.


"Rencananya memang harus turun dulu menjelang melahirkan, karena dengan kondisi jalan kaki sejauh ini, tidak mungkin saat sakit baru turun ke bawah," tegasnya.


Jika ditempuh dengan motor memang lebih memungkinkan secara waktu, tetapi tidak memungkinkan bagi keselamatan ibu dan bayi lantaran akses yang sangat ekstrem.(isn)