Diskominfo Jember – Bagi warga yang tinggal di kawasan dengan infrastruktur jalan yang menantang, kehadiran petugas kesehatan yang menjemput bola menjadi berkah tersendiri.
Hal itu yang dirasakan oleh Febriyanti Rizkyanggini (27), seorang ibu hamil yang kini tengah memasuki usia kandungan empat bulan. Perempuan yang akrab disapa Febri itu mengaku sangat terbantu dengan adanya program kunjungan home care yang mendatangi kediamannya, Kamis (5/2/2026).
Menurut dia, akses menuju fasilitas kesehatan terdekat seperti puskesmas pembantu (pustu), bukanlah perkara mudah."Sangat membantu, soalnya kalau ke bawah (pustu) itu jauh, terus jalannya juga licin. Kalau didatangi ke sini kan lebih gampang dan lebih enak," ujar Febri saat ditemui di rumahnya, Dusun Tenap, Desa Sucopangepok, Kecamatan Jelbuk.
Selama ini, untuk mendapatkan layanan kesehatan, Febri harus menempuh perjalanan sekitar 30 menit menggunakan sepeda motor. Kondisi jalan yang tidak menentu dan licin menjadi beban tambahan, terutama bagi ibu hamil dengan usia kandungan yang semakin membesar.
Kunjungan ini merupakan pengalaman pertama bagi Febri mendapatkan layanan medis langsung di rumah. Sebelumnya, ia harus berjuang sendiri menuju pustu untuk memeriksakan kehamilannya.
Mengingat manfaat besar yang dirasakan, Febri berharap program jemput bola ini tidak berhenti sampai di sini. Dia sangat menginginkan petugas kesehatan dapat kembali berkunjung secara rutin hingga masa persalinannya tiba.
Layanan home care ini diharapkan mampu menjadi solusi nyata dalam menekan risiko kesehatan bagi ibu dan anak. Khususnya, di daerah-daerah yang sulit dijangkau oleh kendaraan umum maupun akses jalan yang memadai.(isn)
Hal itu yang dirasakan oleh Febriyanti Rizkyanggini (27), seorang ibu hamil yang kini tengah memasuki usia kandungan empat bulan. Perempuan yang akrab disapa Febri itu mengaku sangat terbantu dengan adanya program kunjungan home care yang mendatangi kediamannya, Kamis (5/2/2026).
Menurut dia, akses menuju fasilitas kesehatan terdekat seperti puskesmas pembantu (pustu), bukanlah perkara mudah."Sangat membantu, soalnya kalau ke bawah (pustu) itu jauh, terus jalannya juga licin. Kalau didatangi ke sini kan lebih gampang dan lebih enak," ujar Febri saat ditemui di rumahnya, Dusun Tenap, Desa Sucopangepok, Kecamatan Jelbuk.
Selama ini, untuk mendapatkan layanan kesehatan, Febri harus menempuh perjalanan sekitar 30 menit menggunakan sepeda motor. Kondisi jalan yang tidak menentu dan licin menjadi beban tambahan, terutama bagi ibu hamil dengan usia kandungan yang semakin membesar.
Kunjungan ini merupakan pengalaman pertama bagi Febri mendapatkan layanan medis langsung di rumah. Sebelumnya, ia harus berjuang sendiri menuju pustu untuk memeriksakan kehamilannya.
Mengingat manfaat besar yang dirasakan, Febri berharap program jemput bola ini tidak berhenti sampai di sini. Dia sangat menginginkan petugas kesehatan dapat kembali berkunjung secara rutin hingga masa persalinannya tiba.
Layanan home care ini diharapkan mampu menjadi solusi nyata dalam menekan risiko kesehatan bagi ibu dan anak. Khususnya, di daerah-daerah yang sulit dijangkau oleh kendaraan umum maupun akses jalan yang memadai.(isn)