Diskominfo Jember – Program Studi Teknik Pertambangan Universitas Jember kembali menunjukkan komitmennya dalam memberikan solusi nyata bagi masyarakat. Yakni, melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu. Bertempat di Gapoktan Makmur, Desa Kemuning Lor, Kecamatan Arjasa, Kabupaten Jember, tim pengabdian menyelenggarakan pelatihan pembuatan pupuk organik. Bahannya terbuat dari dasar limbah batu gamping, fosfat, dan kotoran sapi sebagai alternatif pupuk yang murah, mudah diproduksi, dan ramah lingkungan. Kegiatan yang diketuai Rina Lestari ini melibatkan kolaborasi lintas disiplin dari berbagai fakultas di Universitas Jember serta mitra internasional. Tim terdiri atas Prof. Dr. Ir. Entin Hidayah dari Program Studi Teknik Sipil Universitas Jember sebagai pakar Manajemen Sumber Daya Air, Prof. Dr. Candra dari Program Studi Ilmu Tanah Fakultas Pertanian sebagai ahli biologi tanah dan Kesehatan tanah, Dr. Agus dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) sebagai ahli geofisika.Selain itu, ada juga Prof. Dr. Indarto dari Fakultas Teknologi Pertanian sebagai pakar Hidrologi dan Sistem Informasi Geografis (GIS), Fachruzzaki, Akademisi Teknik Pertambangan, serta Dr. Pritam Kocherkota dari Department of Mathematics, Pandit Deendayal Energy University (PDEU), India, yang turut berkontribusi dalam dalam kegiatan ini. Kolaborasi multidisiplin dan internasional ini menjadi bukti bahwa penyelesaian permasalahan pertanian memerlukan sinergi berbagai bidang ilmu. Mulai teknik pertambangan, teknik sipil, ilmu tanah, geofisika, teknologi pertanian, hingga matematika terapan. "Melalui kerja sama tersebut, tim berupaya menghasilkan teknologi tepat guna melalui pembuatan pupuk organik yang dapat diterapkan langsung oleh Masyarakat," kata Rina Lestari.Pelatihan tidak hanya berfokus pada proses pembuatan pupuk organik. Namun, juga mencakup pengujian kualitas pupuk serta aplikasinya pada tanaman jagung. Batu gamping dimanfaatkan sebagai sumber kalsium, fosfat sebagai penyedia unsur fosfor, sedangkan kotoran sapi berfungsi sebagai bahan organik utama yang diproses menjadi pupuk bernilai tambah. "Pemanfaatan bahan-bahan lokal tersebut diharapkan mampu menekan biaya produksi sekaligus mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk anorganik," lanjutnya.Ketua tim pengabdian, Rina Lestari, menjelaskan bahwa kegiatan ini dilatarbelakangi oleh hasil diskusi langsung dengan para petani. Dari dialog tersebut diketahui bahwa petani masih mengalami kesulitan memperoleh pupuk anorganik, seperti urea, karena ketersediaannya terbatas, distribusinya dibatasi, dan harganya relatif mahal. Kondisi tersebut menyebabkan biaya produksi meningkat dan berdampak pada menurunnya keuntungan usaha tani. "Hasil diskusi menunjukkan bahwa rata-rata petani memperoleh pendapatan kotor sekitar Rp 4,5 juta setiap kali panen dengan biaya produksi sekitar Rp1,5 juta, dan kadang kadang mengalami kerugian. Selain itu, sebagian besar petani belum melakukan pembukuan usaha tani secara baik sehingga belum mengetahui secara pasti struktur biaya dan keuntungan yang diperoleh," ujar Rina. Tim pengabdian berharap para petani mulai membiasakan diri melakukan pembukuan usaha tani dengan baik sebagai dasar dalam mengevaluasi biaya produksi, menghitung keuntungan secara akurat, serta mengambil keputusan usaha yang lebih efektif. "Dengan pengelolaan keuangan yang tertata, petani diharapkan mampu meningkatkan efisiensi usaha, memaksimalkan keuntungan, dan mengembangkan usaha tani secara berkelanjutan," ulasnya.Dalam kesempatan tersebut, tim pengabdian memalui pak Mukri ketua Gapoktan Makmur juga mengajak para petani untuk mulai mengubah pola pikir dalam mengelola usaha tani. Selama ini, sebagian petani masih menerapkan teknik budidaya berdasarkan kebiasaan yang diwariskan secara turun-temurun. "Padahal, peningkatan produktivitas memerlukan penerapan praktik budidaya yang baik (good agricultural practices). Mulai pengolahan lahan, pemupukan, penanaman, pemeliharaan tanaman, hingga pengendalian hama dan penyakit sesuai rekomendasi teknis," paparnya.Melalui perubahan cara bertani yang lebih terencana dan berbasis ilmu pengetahuan, diharapkan produktivitas tanaman meningkat, biaya produksi lebih efisien, dan kesejahteraan petani semakin baik.*